LongWay2Go
April 28, 2019
Yeeeaaaah…meski perhitungan meleset, berkat kebaikan Dessy, bisa juga tetap berangkat ke Gokulam untuk menyelesaikan TTC dan yoga Thai massage.
Perjalanan yog kali ini mengalami beberapa perubahan. E-visa, gratis dan dapat setahun pula. Pesawat, lumayan murah…meski tanpa bagasi tapi dapat makan dari Malindo. Sesampainya di Mysuru lebih rileks meski masih pagi buta.
Hari pertama, 26 April 2019, setelah rehat sejenak, aku langsung telepon Srinatha, memberi kabar bahwa aku sudah sampai di Gokulam. Beliau langsung menawari kalau mau ikutan kelas. Aku langsung saja bergabung. Pikirku, sura
yog journey
Maret 5, 2019
beberapa pekan lalu, lalu lalang kerjaan lumayan padat merayap. project yoga berupa preparatory yoga teacher class alias yoga teacher training 30 hours, sudah dimantapkan untuk diselenggarakan pada 22-24 februari 2019. ndilalah-nya, di minggu awal februari, ada bisik-bisik dari klien lama untuk meminta bantuan dibuatkan infografis dan desain buku laporan tahunan. menarik sekali (secara itung-itungan matematika) dan mengguncang jam tidur dan kerja pastinya. pasti…waktu pengerjaan akan singkat dan padat revisi. itulah tantangannya! saat dua pekerjaan bertemu di titik genting…apakah mampu diselesaikan dengan cihui?
penuh syukur kutahurkan ke Gusti Allah, Sang Pangeran, semuanya bisa dikerjakan dengan apik. event yoga berjalan dengan lancar, bahkan sangat menggembirakan bagiku karena bisa memberi lebih dari bayanganku. kerjaan lama bisa membaharui semangat dan menyatakan bahwa aku masih okelah untuk menyelesaikan tanggung jawab.
rasanya yoga membuatku semakin yakin, semakin sumeleh bahwa penyelenggaraan Ilahi mengantarkan dan menyertai setiap proses berkarya. selalu sadar dan konsisten untuk belajar sadar mengantar untuk bisa menyandarkan diri pada kasih Sang Pangeran.
rahayu,
yokolilo
from yogya to yog
Oktober 8, 2018
30 ke 200
akhir 2017, akhirnya kuputuskan untuk menelateni dan menyelami lebih serius yoga. awalnya, memang hanya untuk olah raga dan terapi bahu kananku yang sangat turun karena posisi duduk yang tidak tepat. sayangnya, sudah berlangsung bertahun-tahun semenjak menjadi penulis naskah iklan.
oktober 2017 adalah bulan bersejarah bagiku karena nekat mengambil yoga teacher training, meski baru 30 jam dan di Jogja. sebenarnya tidaklah menantang karena tidak ada yang baru. gurunya, guru yogaku setiap minggu, pak isaac. kelas yang dimiliki bernama sri redjeki. ya, singkat sekali, hanya 30 jam dengan pertemuan yang dilaksanakan di akhir pekan.
yang paling menantang adalah saat harus mulai mengajar untuk teman-teman seangkatan yang mengambil training juga. apalagi setelah itu, mengajar perdana di perigon, jogja pada akhir desember 2017. mengatur napas sambil melakukan pose atau asana sekaligus mengingat nama pose, sequence antar gerakan ke gerakan selanjutnya…sangat berbeda saat mengajar memberikan materi kuliah atau presentasi. untungnya, mengajar perdana lolos. lega. selanjutnya kelas lainnya berlanjut dan menetap sementara hingga saat ini di i-fit, yogya.
kutanyakan pada dessy, istriku, apakah garasi rumah boleh dijadikan studio yoga? konsekuensinya, mobil parkir inap di carport. ok dan diijinkan. mulailah dibuka kelas yoga di rumah dengan murid perdana teman gereja, sesama prodiakon. ya, dari awal memulai mengajar dan membuka studio, aku ingin semuanya berjalan senatural mungkin. kubuang jauh pola pikir iklan yang selama ini selalu kupakai.
tiba-tiba, suatu hari, dessy bilang, ‘kalau ingin serius di yoga, kamu harus sekolah. kalau perlu ke india!’. wah, mengejutkan. setelah kupikir, benar juga. mencari pengalaman baru, ilmu baru di tempat baru, antah berantah yang belum pernah kukunjungi dan pasti, tempat yang tepat untuk belajar yoga. yak, ambil yoga teacher training 200 jam!
beralihnya shiva ke daneshe
sebulan hingga dua bulan, aku mencari informasi sekolah yoga via dunia maya dan bertanya teman sesama guru. ternyata, temanku punya teman/saudara, guru yoga juga di bogor. beliau sudah beberapa kali mengambil teacher training di india. aku pun nekat menghubungi. rani, mbak rani, namanya. tanya tentang sekolah, biaya, guru sampai cara membuat e-visa. sekolah yang kutuju awalnya adalah shiva yoga peeth di rishikesh. terletak di kaki himalaya dan dekat sungai gangga, kondusif sekali untuk yoga, katanya. tapi kendala teknis pembayaran dengan menggunakan paypal menggagalkan upaya untuk bersekolah di sana. mbak rani pun menawarkan opsi kedua, daneshe di gokulam, mysuru. nomer telpon gurunya pun diberikan supaya aku lebih leluasa untuk tanya sana sini. akhirnya…keputusan berguru ke srinatha, daneshe, gokulam sudah ketok palu.
eh-visa
langkah selanjutnya, bikin e-visa. penuh perjuangan. belum pernah aku membuat e-visa. atas petunjuk mbak rani dan searching di internet, akhirnya berhasil. mudah. relatif sih. nah…setelah urusan administrasi e-visa usai dengan biaya sekitar USD 51.5 , tinggal urus tiket. tiba-tiba…seminggu setelah e-visa beres, pemerintah RI dan India mengeluarkan kebijakan visa gratis ke India. hohoho…ya, antara senang dan agak kecewa. tau gitu kan…hahaha…tapi ya sudah lah…lanjut saja…urusan tiket juga beres. dapat 4.5 jutaan untuk pulang pergi tapi berangkat lewat jakarta-bangalore karena belum ada/belum dapat tiket yogyakarta-bangalore. untunglah saat itu dapat tumpangan dari kakak yang sedang mudik. jadi, lumayan berhemat.
kejutan di bandara
check and recheck semua dokumen dan keperluan kulakukan berkali-kali. sengaja aku berangkat lebih awal ke bandara soeta. oh ya, akhirnya aku dapat teman, adiknya mbak rani, thofan namanya. dia kerja di yoga barn, bali. kami janjian untuk bertemu di bandara. kebetulan jamnya nyaris sama tapi dengan rute berbeda. aku transit di bangkok, thofan di kuala lumpur. perkiraan kami, beda-beda tipis lah ketemu di bangalore nanti. agak lega, ada teman dari indonesia di bangalore.
langkahku kurang tenang saat menuju antrian check in. yak, dan benar saja…ternyata ada yang terlewat. penting pula…nomer di application status belum kuprint dan aku tidak sadar itu harus dibawa. ‘mak deg’ jantungnku berdegap kencang, keringat mengucur…dramatis banget…waktu tinggal 45 menitan. ga lucu…ga asik…gagal berangkat gara-gara ginian…padahal aku tahu kalau sudah ada approval.
saat genting itulah…saat aku merasakan nikmatnya yoga. calmly mind…bring awareness dan berdoa. ‘tolong…tolong saya…Tuhan…bereskan urusanku ini…malaikat pelindung…nyuwun dituntun…’ begitulah aku bisikkan doa di hati. benar…setelah lebih tenang, aku sadar. ‘ini kan e-visaaaaaaaaaaaa…e-visaaaaaaaaaaaa…semua ada di e-mail kaaaan….ayo…ayoooo check email…pelan-pelan…’ kataku pada diriku sendiri. perlahan dan penuh ketelitian, kujelajahi email dan kutemukan persyaratan yang diperlukan itu. ‘matur nuwun Gusti…’ berkaca-kaca mataku…sambil tersenyum kuberikan halaman email itu ke mbak petugas. urusan beres. imigrasi, check in…beres…
kutukarkan 100 USD dengan rupee untuk bekal ke india. dolar memang sakti. satu lembar bisa jadi berlembar-lembar. rupiah, rupee, dolar ada dalam satu dompet.
don muang dan aish
jakarta ke don muang, bangkok…transit nyaris 4 jam, kalau ga salah. untuk memudahkan urusan perut karena perjalanan yang cukup lama, aku membawa bekal. nasi bandeng yang disiapkan kakakku. jadi amanlah. malas saja kalau baru memulai perjalanan sudah kena masalah perut. sambil mengisi baterai hp, aku mengisi perut di pojokan. beres. kenyangnya pas. kulanjutkan untuk mengurus surat-surat ke tempat transit. bagian pemeriksaan sempat menanyai power bank yang kubawa dan bedak herocyn yang kubawa. ya, bedak…kubawa karena kakiku yang selalu berkeringat. supaya terbebas kutu air saat pakai sepatu, selalu kupakai bedak. kujelaskan ke pak petugas, ini bedak kesehatan, bukan heroin…duh…namanya kok ya lumayan mirip yak. andai aku bawa detol saja. akhirnya pak petugas mengerti dan paham. aku pun lolos pemeriksaan.
berharap bisa menikmati wifi gratisan di bandara, berulang kali kucoba kata kunci yang sudah diberi petugas. apa daya…hp ternyata tidak mendukung. ga tau, apanya yang salah atau ga beres. ya…akhirnya…waktu yang lumayan lama itu…kupakai untuk jalan-jalan sekitar bandara. penerbangan akan dimulai jelang pukul 11 malam. beberapa rupiah kutukar dengan bath (untung rupiahnya bisa dituker…ga harus dolar) buat berjaga kalau aku butuh minum/makan. tidak ada yang menarik hati. jadi, kuputuskan untuk duduk-duduk saja sambil membaca beberapa file pdf di hp.
seorang cewe india, datang duduk di sebelahku. sama, dia juga mengisi baterai hp bahkan meminta tolong padaku untuk menjaga hpnya beberapa saat karena dia ke toilet. percaya sekali dia dengan orang asing. tak berapa lama, dia datang dan kami berbincang. aish, namanya. berdarah india tapi tinggal di seattle, amerika. dia hendak berkunjung ke bangalore. kami satu pesawat. aish bilang kalau gokulam, mysore konon daerah yang asik. yak, konon karena dia belum pernah ke gokulam. aku amini. moga-moga benar-benar tempat yang asik dan seru.
panggilan tiba. kami pun beranjak menuju antrian. kulihat beberapa pria india ikut masuk ke bis menuju pesawat; kekar, besar, legam…hohoho. yah, akhirnya terbang ke bangalore…sebelum terbang kukirim sms ke thofan. kuminta dia untuk menungguku di bandara bangalore kalau di sampai duluan. demikian juga kalau aku sampai duluan.
bangun, bangalore!
yeaaah…dengan mata kriyip-kriyip, pesawat mendarat di bangalore jam 3-an pagi. masih berusaha sadar sepenuhnya, kucari wifi di bandara. gagal lagi. untung, ada satu sms dari thofan yang masuk, ‘aku pakai jaket merah, duduk di depan resto/coffee shop pintu keluar.’. ayem, dia masih nunggu. urusan ke imigrasi menanti. ditanyailah aku oleh pak petugas tentang tujuanku ke india. ‘yoga course!’ jawabku. mereka menjawab, ‘oow you are a yogi. enjoy your journey!”. sambil menggeret tas, aku melenggang keluar mencari thofan yang berjaket merah.
kami pun bertemu untuk pertama kalinya. langsung berkenalan dan mencari bis menuju mysore. sebenarnya, kami sudah dibelikan tiket oleh daneshe tapi sayang oh sayang…emailnya terlambat masuk. jadi, kami harus menyerahkan 800 rupee per orang untuk naik bis, mirip bis damri bandara, menuju mysore. nyaman dapat minum dan bisa tiduran lagi.
bis mentok berhenti di mysore junction. kernet teriak-teriak penuh amarah. mungkin dia lelah. kami bergegas meninggalkan bis. masih gelap. butuh sekitar 4 jam dari bangalore ke mysore. masih bengong. mbak rani dan daneshe sudah memberi info dari pemberhentian bis, lanjut naik tuk-tuk ke daneshe, gokulam. thofan juga sudah mempersiapkan google map dan info tarif naik tuk-tuk. deal, 150 rupee ke gokulam.
holla gokulam…hai, daneshe!
tidak susah untuk menemukan daneshe meski agak nyasar dikit. kami pun bingung karena tidak ada satpam di depan daneshe. nekat masuk saja. di ruang resepsionis ada petugas hotel yang tidur nyenyak. kami gedor pintu dan tidak ada perubahan posisi tidur si petugas. tiba-tiba seorang pria keluar dari sebuah kamar. kami jelaskan bahwa kami datang dari indonesia untuk ambil teacher training. dia paham, ternyata sebenarnya pria itulah yang akan menjemput kami dari mysore junction ke gokulam. kunci kamar diberikan. kami pun bisa rehat bentar di kamar.
sempat memejamkan mata beberapa saat. aku terhenyak, banyak suara gagak. serasa menonton film horor. kulihat dari jendela kamar, ternyata banyak gagak bertengger di kabel listrik. ini bukan mimpi…ini kenyataan bahwa kamu sudah di gokulam! aku pun senyum-senyum sendiri seperti orang gila, orang katro, orang udik…apalagi kalau ingat urusan e-visa di bandara soetta.
Menjenjakkan Karya, Mengakarkan Seni
November 20, 2017
Seni menjalar dalam napas kehidupan Kota Gudeg, Yogyakarta. Dikenal dengan kota yang kaya seni dan budaya, baik masyarakat hingga bangunan infrastruktur disusupi roh seni. Beberapa bulan ini, misalnya, beberapa karya seni terpampang di sekitar daerah Kota Baru. Tentu, dibutuhkan kejelian ekstra pada saat pemasangan karena karya tersebut berada di ruang publik dan tetap harus memperhatikan estetika.
Selaras dengan iklim kondusif yang memancing tumbuh suburnya karya seni dan budaya di Yogyakarta, sebuah gerakan seni dimulai oleh sebuah hotel baru di kawasan TImoho. GAIA Cosmo mulai tumbuh di dunia bisnis perhotel Yogyakarta dengan menyemai bibit seni dan budaya dalam tiap sisi ruang. Pada 18 November 2017, GAIA mulai menggelar pagelaran seni Rooted in Art: A Lasting Footprint. Menggandeng Benda Art Management, event ini mengajak lima seniman muda yang berdomisili di Yogyakarta; Derry Pratama, Ivan Bestari, Apri Susanto, Ludira Yudha dan Dedy Shofianto. Kolaborasi GAIA dan Benda memang ingin mengangkat potensi para pelaku seni lokal. Hal ini sesuai dengan visi GAIA yang menitiberatkan pada menjunjung tinggi nilai-nilai lokal dan memadukannya dengan standar internasional.
Karya-karya seni dari kelima seniman muda kini telah terpasang dengan apik di lima sudut ruang hotel. Pada pintu menuju poolside terdapat karya Ludira bertajuk “Unknown Organic Object no. 3″ yang terbuat dari untaian kawat ratusan meter.
Memasuki poolside terdapat tiga karya yang terbuat dari tanah liat, terpasang pada dinding. Karya “The Flow of Life” karya Apri Susanto dan dikonsep oleh Dian Hardiansyah ini terdiri dari 600 gerabah. Refleksi karya tampak pada air kolam renang yang semakin menguatkan konsep karya. Seolah bercerita tentang gelombang kehidupan yang bergerak dinamis.
Penempatan karya memang menjadi kunci utama yang menambah nilai lebih karya seni. “Migration” menampilkan kepakan sayap yang bergerak. Karya Dedy Shofianto ini terbuat dari kayu. Stigma kayu yang statis, diubah menjadi kayu yang selalu bergerak dengan sentuhan kinetik. Dilengkapi dengan sensor, karya ini bergerak ketika ada seseorang yang melintas di depannya sehingga mencuri perhatian.
Dery Pratama membangun ide lewat sebuah kontruksi berjudul “778540 LK”. Susunan logam yang lazim berbentuk seperti bagian sofa, menjulang tinggi hingga tujuh meter. Bercerita tentang pesatnya pertumbuhan bangunan tinggi di Yogyakarta yang tidak terkontrol, karya ini memperindah suasana sekitar resto karena juga berfungsi untuk menutup trafo listrik.
“It Grows” tercipta dari material upcycle sisa kaca dari pembangunan GAIA Cosmo. Ivan Bestari meleburnya menjadi tiga karya dengan masing-masing dengan tinggi sekitar 80 cm. Ketiga karya ini dipajang di lantai M berdekatan dengan lift.
GAIA Cosmo dan Benda memilih kelima seniman karena kesetiaan pada material yang dipakai. GAIA yang berarti dewa bumi, merangkul karya-karya seniman yang menggunakan material kayu, logam serta tanah. Dalam proses pembuatan juga menggunakan api ataupun air. Unsur-unsur tersebut diharapkan mampu menciptakan karya yang dinamis, seperti alam yang selalu memberikan yang baik untuk kehidupan.
Ekplorasi ide dan pemanfaatan spot serta tenggat waktu adalah tantangan bagi semua pihak. Harmonisasi brand value GAIA Cosmo yang ingin menampilkan dan menanamkan jiwa seni ke dalam lingkungan hotel, terwujud apik dan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Perencanaan yang matang dan tertata diperlihatkan oleh Benda dan GAIA Cosmo, seperti dengan mengadakan preview event dan karya pada 28 Oktober 2017 dan dengan mengadakan art discussion yang akan diadakan di bulan November dan Desember tahun ini.
Semoga ekosistem seni yang mulai dibangun GAIA Cosmo benar-benar dapat memberikan mata rantai kehidupan seni yang dinamis. Dengan demikian potensi kehidupan seni Yogyakarta bahkan dalam lingkup yang lebih luas, Indonesia, dapat diapresiasi oleh masyarakat lokal maupun internasional. (yokolilo)
-L-





GEREJA BINTARAN
Oktober 26, 2017

Rangkaian kisah tersimpan di sebuah bangunan dengan atap melengkung, mirip sebuah pedati panjang. Bangunan berusia 82 tahun itu, menyimpan banyak sejarah, baik yang erat hubungannya dengan kehidupan gereja Katolik maupun sejarah negara Republik Indonesia.
Gereja Jawa Pertama
Gereja Santo Yusup Bintaran, atau lebih dikenal sebagai Gereja Bintaran terletak kampung Bintaran, Yogyakarta. Rangkaian sejarah panjang kehidupan umat Kristiani dan juga sejarah bangsa Indonesia ada terjadi di gereja yang diresmikan pada Minggu, 8 April 1934. Gereja Bintaran lahir seiring dengan bertambahnya jumlah jemaat pribumi yang semula beribadah sebuah gudang, di sebelah timur Gereja Kidul Loji. Sejatinya, bangunan gereja terbuka untuk semua umat. Namun jemaat pribumi merasa kurang nyaman untuk berdoa di tempat modern. Ditambah lagi dengan kebiasaan untuk duduk lesehan, karena pada saat itu baik pria maupun wanita masih mengenakan kain. Kondisi tersebut menggerakkan Pastor H. Van Driessche, Pastor van Kalken, SJ., dan Dawoed untuk mendirikan bangunan gereja baru yang disesuaikan dengan suasana serta cita rasa masyarakat setempat. Latar belakang tersebut menjadikan Gereja Bintaran disebut sebagai Gereja Jawa Pertama di Yogyakarta.
Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini dirancang oleh J.H Van Oi Jen dan dibangun berlandaskan beton oleh Holandsche Beton Maatschap-pij sebagai pelaksana. Berdiri di atas luas lahan 5115m² dengan luas bangunan 1725.77m², berbagai keunikan dihadirkan pada keseluruhan bangunan mulai dari fasad bangunan hingga detail interior.
Tempat ibadah ini seolah menjadi denyut nadi kehidupan gereja yang berbaur dengan masyarakat. Sesuai catatan sejarah, Gereja Bintaran sering digunakan sebagai tempat untuk pertemuan rapat para pejabat negara, seperti Presiden Soekarno dengan Mgr. Soegiyapranoto-uskup pribumi pertama. Tak hanya itu, pada masa perjuangan kemerdekaan tahun 1947-1948, gereja digunakan sebagai tempat pengungsian oleh penduduk sekitar. Berbagai kegiatan, kebijakan dan cikal bakal kehidupan media juga lahir di Gereja Bintaran.
Perpaduan Gaya
Menarik untuk menelisik trade mark Gereja Jawa Pertama di Yogyakarta yang disematkan untuk Gereja Bintaran yang ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI No.PM.2/PW.007/MKP/2007 pada 26 Maret 2007.
Bentuk bangunan luar, bangunan dalam hingga detail ornamen berpadu menyiratkan makna. Tampak dari luar, gaya arsitektur tercipta dari sintesa arsitektur Basilika, arsitektur Modern dan arsitektur Jawa. Selubung tengah yang tinggi dan melengkung diapit dua ruang, masing-masing di sisi kiri dan kanan. Ditambah dengan kehadiran deretan jendela berbentuk bulat, atau sering disebut sebagai jendela mawar, serta pintu utama yang menyerupai gaya arsitektur Basilika.
Dinding Gereja Bintaran memiliki bidang-bidang polos yang lebar dan garis-garis kolom balok yang identik dengan gaya arsitektur Modern. Sedangkan gaya Jawa tampak dalam bentuk atap yang melengkung, mirip dengan pedati yang pada masa itu digunakan sebagai kendaraan rakyat. Pemakaian arah poros bangunan utara-selatan menyerupai orientasi bangunan Kraton Yogyakarta yang terletak tidak terlalu jauh dari gereja.
Sekilas, bangunan luar juga tampak mengadaptasi bentuk Candi Borobudur dengan pemberian ide bentuk bangunan yang mengecil ke atas untuk menempatkan lonceng dan salib, dan juga alas dinding yang berlekuk-lekuk.
Fungsi dan Makna
Kemegahan dan keunikan Gereja Bintaran semakin terasa saat kaki melangkah memasuki bangunan. Sebagai bangunan yang berdiri di kawasan tropis, bangunan ini memiliki tinggi plafon 12,80 meter di bagian tengah yang bersanding dengan tinggi plafon ruang di tepi kanan kiri 5,61 meter ditambah dengan panjang bangunan 37,35 meter dan lebar 25,26 meter. Komparasi langsung tinggi plafon ini memberi efek dramatis.
Sepuluh pilar beton dengan lekak lekuk yang terinspirasi dari bentuk candi tampak menjadi penopang yang kokoh. Ornamen yang secara konsisten dihadirkan pada pilar, dan juga sisi luar bangunan adalah salib.
Optimalisasi cahaya dan sirkulasi udara rupanya dengan jeli dihadirkan lewat lubang-lubang ventilasi jendela mawar. Cahaya alami berlomba-lomba masuk lewat 65 lubang jendela mawar yang terdapat di tiap sisi dinding. Ornamen jendela mawar ini memiliki satu bulatan besar berkaca yang berpusat di bagian tengah dan dikelilingi delapan bulatan berukuran lebih kecil tanpa kaca. Menurut tradisi gereja, ornamen ini adalah bentuk simbolisasi dari bunga mawar yang sering digunakan gereja untuk merepresentasi Bunda Maria, Ibu Yesus. Lubang ventilasi lainnya terdapat pada bagian atap berbentuk melengkung dan beberapa jendela.
Deretan lukisan kanvas tentang kisah sengsara penyaliban Yesus terpasang rapi di sekeliling dinding. Selain menambah nilai seni dan berfungsi sebagai ibadah jalan salib, pemilihan material kanvas dimaksudkan sebagai peredam ruangan.
Beberapa kursi-meja original peninggalan warisan masa lalu masih tampak terawat. Uniknya, terdapat logam kecil di bagian atas meja yang dulu digunakan untuk menyisipkan nama orang yang diperbolehkan duduk di tempat tersebut. Sedangkan umat, masyarakat pribumi yang biasa, disediakan area duduk lesehan yang diciptakan sesuai dengan kebiasaan masyarakat Jawa pada saat itu.
Sejarah untuk Sekarang
Napak tilas sejarah tentang Gereja Bintaran memang penuh kisah. Baik akademisi atau pun peziarah bertandang untuk menelusuri rekam jejak sejarah. Salah satu sosok yang terkenal karena pengabdian untuk gereja dan negara adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, atau juga dikenal dengan nama Soegija.
Sebagai uskup pribumi pertama dengan prinsipnya “100% Katolik, 100% Indonesia”, Sogija dekat dengan Ir. Soekarno. Keduanya sering berdiskusi di area Gereja Bintaran yang bersanding dengan beberapa bangunan lainnya. Terdapat aula, pastoran – tempat tinggal pastor yang bertugas dan ruang kerja lainnya. Kini, salah satu kamar di aula bagian dalam, dipersembahkan untuk Soegija. Beberapa benda-benda bersejarah milik Soegija tersimpan di dalamnya.
Sejarah kehidupan Gereja Bintaran masih dijaga hingga sekarang. Tidak hanya menjaga warisan cagar budaya, tetapi juga berusaha untuk terus menjadikan sebagai bagian dari umat gereja dan kehidupan masyarakat. Tak jarang, lingkungan gereja digunakan sebagai tempat untuk pertemuan warga sekitar Bintaran hingga menjadi tempat pernikahan. Bahkan menjadi posko pengungsian yang selalu siap siaga saat terjadi musibah seperti meluapnya aliran Sungai Code. Gereja Bintaran adalah bagian dari harmoni kebersamaan hidup bermasyarakat. (YokoLilo/foto oleh Oki Soetrisno)
WARUNGBOTO
Oktober 25, 2017
Warungboto, sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Umbulharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini dikenal sebagai destinasi wisata baru karena adanya sebuah situs cagar budaya. Pada pertengahan tahun 2016, petilasan ini mulai dibangun kembali sesuai wujud aslinya sebagai usaha pelestarian warisan sejarah.
Tempat Istirahat Keluarga Kerajaan
Warungboto mulai didirikan pada tahun 1785 oleh Sultan Hamengkubowono I dan dilanjutkan oleh Sultan Hamengkubowono II. Bangunan yang semula dikenal dengan nama Pesanggrahan Rejowinangun berfungsi sebagai pesanggrahan, atau tempat istirahat, keluarga kerajaan. Secara fungsional, pesanggrahan ini mirip dengan Tamansari yang terletak dekat dengan Keraton Yogyakarta. Berdasarkan data dari Balai Peletarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, bangunan ini dilengkapi dengan taman, segaran, kolam dan kebun untuk menciptakan suasana nyaman dan tenang.
Dibangun dengan menggunakan batu bata, pesanggrahan ini terdiri dari dua bagian, yakni sisi barat dan timur. Bangunan sisi barat terdapat pintu gerbang berupa tangga besar yang menghubungkan ke dalam sebuah ruangan besar di lantai satu. Ruangan yang tampak megah ini memiliki rangkaian bangunan berkamar dengan halaman dan teras serta dua kolam pemandian yang menggunakan umbul, atau mata air, sebagai sumber air. Kolam berbentuk lingkaran dengan diameter 4,5 meter. Pada bagian tengahnya terdapat pancuran air. Dan kolam lainnya berbentuk bujur sangkar berukuran 10 meter X 4 meter. Sebuah saluran kecil menghubungkan kedua kolam tersebut. Persis di sisi kanan dan kiri kolam terdapat tangga sempit untuk menuju ke lantai 1. Bangunan di sisi timur, saat ini sedang dalam proses renovasi.
Bagian lainnya yang tak kalah menarik adalah struktur bangunan kokoh dan anggun. Tampak dari tembok-tembok tinggi dan tebal serta kehadiran lorong-lorong dan aksen lengkung pada bagian jendela. Pesanggrahan Warungboto seolah menghadirkan private area yang benar-benar nyaman untuk rehat dan melepas penat.
Membangunkan Kemegahan
Langkah Badan Pelestarian Cagar Budaya DIY yang bekejasama dengan Keraton Ngayogyakarta untuk memugar kembali situs-situs bersejarah memang layak diapresiasi. Memang, kondisi pesanggrahan Warungboto sebelum dipugar sangat memprihatinkan. Bahkan tim kerja cukup kesulitan memulai proses renovasi karena kebeterbatasan data dan kerusakan akibat faktor alam, terutama karena gempa bumi.
Meski belum selesai sepenuhnya, pesanggrahan Warungboto sudah mulai menampakkan kemegahan dan keanggunannya. Banyak wisatawan mulai berdatangan dan berfoto. Diharapkan pemugaran situs ini tidak hanya menjadi lokasi wisata baru tetapi juga menjadi lahan untuk mengapresiasi warisan budaya. (yokolilo, foto oleh oki sutrisno, pernah dimuat di majalah LARAS)
tumbang
September 28, 2017
tumbang juga akhirnya. cuaca yang sangat terik benar-benar menguji kekuatan fisik. hampir dua minggu ini, kami sekeluarga sakit flu. tiga hari yang lalu, setelah dinantikan…hujan turun juga. jalanan sudah relatif tidak berdebu lagi. perubahan cuaca dan peralihan musim mengharuskan tubuh dalam kondisi prima. sisa-sisa penyakit ini haruslah segera dihilangkan.
-L-
artjog 2016 pun rawuh…
Mei 27, 2016
meski tak terlalu mengerti detail seni, tapi saya suka banget menikmati karya seni. mungkin harus ngobrol atau paling ga ndengerin dari seniman atau kurator untuk mengerti dan mendalami seni. perhelatan seni artjog 2016 sudah digelar. tahun ini adalah kesembilan kalinya artjog memberikan pemandangan indah yang bernutrisi. selalu ada kejutan baru di tiap artjog. apalagi, ada mistifikasi angka sembilan sebagai angka yang paling tinggi. ada beberapa hal yang berubah pada artjog tahun ini.
tema ‘universal influence’ diusung tahun ini sebagai cerminan terhadap kondisi dunia saat ini. dunia seni dan budaya yang merupakan bagia dari kehidupan selalu bergulir dan turut berubah. perubahan yang terjadi karena adanya proses mempengaruhi dan dipengaruhi. situasi global saat ini juga semakin menarik karena era digital sudah mulai akrab di masyarakat.
karya yang terpampang adalah karya dari seniman yang dipilih/diundang berdasarkan pertimbangan karya sang seniman yang memiliki trade mark dan membawa kekuatan yang berpengaruh. sebut saja, heri dono, agus suwage, entang wiharso, davy linggar, angki p, nasirun hingga living legend joko pekik dan beberapa seniman ternama lainnya. total ada 72 seniman.
tempat pamer pun beralih ke jogja national museum, yang dulunya adalah kampus ASRI. seturut dengan tema, keputusan pindah tempat ini juga punya misi untuk napak tilas salah satu perjalanan seni nasional, bahkan sudah menjadi bagian dari dunia internasional. beberapa perubahan dan perawatan dilakukan menjelang artjog untuk mengembalikan ke bentuk bangunan aslinya.
karya commissioned artist artjog tahun ini juga mengejutkan. venzha christiawan menghadirkan ISSS, singkatan dari Indonesia Space Science Society, berupa satu antena yang dipasang di menara setinggi 36 meter dan satu kelompok antena yang dipasang di atas alat penangkap sinyal dan frekuensi. disiapkan enam tahun silam, radio astronomi yang bisa diproduksi sendiri (DIY Radio Astronomy) ini berfungsi sebagai pengganti teleskop yang mampu menangkap sinyal dan aktifitas di luar angkasa. piranti pendukungnya berupa 12 layar televisi yang menggambarkan cara kerja, simulasi dan penjelasan tentang karya. dibutuhkan banyak radio astronomi untuk menangkap sinyal dari luar angkasa. singkatnya, karya ini sangat dekat dengan science. mungkin kita juga mempengaruhi atau mungkin juga dipengaruhi kehidupan di luar angkasa sana?
artjog tahun ini juga lain dari artjog sebelumnya karena didukung oleh bank. ya, bank mandiri! sistem pembelian tiket kini menggunakan e-money. pengunjung akan mendapatkan kartu e-money setelah membayar Rp 50.000 (umum) dan Rp 25.000 (pelajar/mahasiswa). katanya sih kartunya keren.
artjog sudah dibuka hari ini. tempat baru. sistem penataan baru. meski belum semua karya terpasang dengan sempurna, aura seni yang menyegarkan mengucur deras. sebuah turbin dan lorong menjadi pembuka. tiga lantai bangunan lawas ASRI siap membelalakkan mata. saya masih terkesima dengan karya djoko pekik bertajuk ‘sirkus adu badak’. kagum karena di usianya yang ke-74 masih mampu melukis menggunakan cat minyak dalam waktu dua bulan.hanafi menggelegar lewat karya ‘wedhus gembel’ dengan ukuran 290X340 cm. ada juga karya entang wiharso ‘promising land’. karyanya benar-benar khas dan berkarakter. kali ini, karyanya bertaburan warna warni.
beberapa karya seniman sepertinya ingin menghadirkan orang-orang terdekat. sebut saja karya angki purbandono yang merangkai foto-foto keluarga, memoar dan sahabat terdekatnya. atau davy linggar dengan foto-foto kolega senimannya. hasil riset yang dilakukannya untuk menelisik kehidupan seniman dan lingkungannya.
selamat menikmati artjog yang kesembilan.
*foto milik artjog2016*
-L-
entang wiharso, promising land
agus suwage, new old style

hanafi, wedhus gembel

venzha, ISSS

djoko pekik, sirkus adu badak

gamang
April 19, 2016
“catatan beberapa bulan silam, saat kelabu…”
selanjutnya ga berlanjut alias menthok. mikir sana mikir sini, sepertinya banyak hal terpampang di depan mata, tapi ujung-ujungnya tetap masih stuck. gitu deh yang saya alami saat ini. mulai dari usaha di bidang iklan, mengajar bahkan menjalar ke dalam tulis menulis. begitu merananya…rasa-rasanya sungguh naas.
obat suntuk andalan saya salah satunya adalah jalan-jalan ke pasar. atau ngobrol dengan teman atau bahkan dengan orang yang belum saya kenal sebelumnya. lumayan menghibur diri. mungkin juga bisa jadi petunjuk untuk menghancurkan hiruk pikuk suntuk yang mengetuk pikiran dan hati.
saya bilang ke teman saya via facebook messenger tentang kondisi saya saat ini. beberapa niat saya untuk cari profesi lain. memang, menurutnya lebih baik punya back-up keahlian. kini, saya ingin belajar menjahit karena istri sudah memulai dunia jahit-menjahit. harapannya biar makin komplit sekaligus makin mesra dengan istri.
back-up plan atau bahkan nantinya berubah jadi alih profesi, mungkin membutuhkan ketegaran hati dan pikiran. apalagi kalau ngomongin tentang gengsi. memang tak hanya butuh niat tebal tapi juga muka tebal untuk memulai alih profesi. semoga saja semuanya masih bisa jalan…walau saya masih sering merasa pesimis karena kondisi lesu yang berkelanjutan ini. yang penting, masih punya harapan dan ga cuma ngomong ataupun cuma mikir di awang-awang. niat seperti ini memang harus segera direalisasikan supaya bisa jadi rejeki.
salam penuh harap,
-L-
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“sesaat saya membaca tulisan saat saya merasa tersesat…”
sedih sendiri rasanya, saat membaca tulisan saya di atas. padahal di tulisan sebelumnya, suntikan semangat dari pak nasirun sejatinya mampu meneduhkan sekaligus meneguhkan. bahwasannya, karunia kodrati kita sebagai manusia tak terbatas. definisi rejeki bisa sangat luas. kesehatan salah satunya, menjadi satu rejeki yang sangat mahal namun sering disepelekan. beberapa pendahulu, baik teman dan keluarga yang telah meninggalkan dunia, bahkan terkena penyakit yang kronis. tak hanya menyisakan isak tangis kepedihan, tetapi juga menyesakkan roda perekonomian keluarga.
hari ini, saya merasa beruntung karena diingatkan kembali pada kemurahan Tuhan atas semua rejeki yang boleh dinikmati. semoga…semuanya ini menguatkan hati dan menjadikan saya berhati-hati dalam berkata, bersikap dan bertindak.
salam belum sarapan,
-L-
Rumah Doa Rupa
Februari 23, 2016
“Proses akan menemukan bahasa”, itulah pernyataan dari Nasirun, seniman ternama kelahiran Cilacap, dalam meniti kehidupan berkesenian. Proses demi proses selalu dinikmati untuk mewujudkan karya. Salah satu proses yang menarik disimak adalah niat baiknya untuk mengapresiasi karya para seniman. Karya demi karya dari rentang waktu cukup panjang menuntunnya untuk membangun ruang koleksi, atau bisa juga disebut museum. Menurutnya, karya seni yang memiliki sejarah panjang harus dipajang sebagai bentuk hormat pada seniman, bahkan menjadi doa rupa yang bisa diakses publik.
Ruang Doa Rupa
Memilih tinggal di perumahan Bayeman Permai, jalan Wates, Yogyakarta, adalah cara Nasirun untuk membaurkan diri baik untuk menggeluti dunia seni sekaligus mendekatkan diri dengan keluarganya. Museum karya seni adalah bangunan termuda yang mulai dibangun di tahun 2010. Dipisahkan sungai kecil, museum berada di sebelah timur rumah tinggal dan studio yang dibangun tahun 2000. Sebuah jembatan berhiaskan taman hijau menjadi penghubung yang mempermudah akses ke museum.
Sebagai seniman, Nasirun prihatin dengan kondisi artefak-artefak seni yang sering kali terlantar. Bahkan rekam jejak suatu karya sering kali hilang dan sulit untuk ditelusuri. Padahal sebuah karya seni diyakini oleh Nasirun muncul dari sebuah proses panjang, seperti situasi dan kondisi saat sang seniman hidup, pernyataan sikap, perjuangan dan lain sebagainya. Ada banyak nilai yang seharusnya direngkuh sebagai bentuk penghargaan sekaligus pembelajaran. Maka, dengan gamblang Nasirun menyebut karya adalah doa rupa. Selayaknya, beribu-ribu doa rupa yang sudah lama ia koleksi harus dibuatkan tempat tinggal.
Nasirun menggandeng Eko Prawoto sebagai arsitek yang memiliki karakter kuat dalam setiap karyanya. Sosok arsitek yang selalu mengangkat budaya dan memakai ornamen ketimuran, natural, sekaligus luwes dan sepaham dengan visi misi Nasirun untuk menghadirkan ruang seni dan budaya. Nasirun memercayakan pada Eko Prawoto untuk bereksplorasi. Ide utamanya adalah museum tersebut menjadi ruang yang bisa menampung koleksi sebanyak mungkin. Pada awal berdiri, empat ratus koleksi menjadi deretan karya yang pertama melekat di dinding museum.
Karya Alam dan Karya Seni
Kecintaan Nasirun pada alam memang tampak dari bangunan museum. Keindahan alam sebagai keindahaan kodrati diselaraskan dengan keindahan karya. Uniknya, Nasirun justru memiliki prinsip bahwa rumah adalah hiasan taman. Berbagai macam tanaman tropis tumbuh dengan indah bersinergi dengan bangunan bergaya tropis. Bahkah, fasad bangunan menjadi tidak terlalu tampak jika dilihat dari jalan perumahan. Keelokan ini semakin syahdu karena perpaduan aneka batu dan beberapa koleksi celengan khas Kasongan, patung dan karya kriya lainnya. Taman memberi kesan hijau dan adem yang mengantarkan pengunjung memasuki ruang koleksi. Di sini mulai terlihat lebih jelas karakter bangunan ruang koleksi.
Banyak kisah tersimpan di bangunan dua lantai ini. Banyak juga sejarah yang mungkin tercecer dan mungkin belum banyak diketahui banyak orang. Koleksi-koleksi yang diperoleh Nasirun seolah menemukan tambatan hingga berlabuh di dinding-dinding ruang. Di teras lantai satu, terpajang sebuah becak lebar bertuliskan ‘Kawan-kawan Revolusi’ yang menampilkan beberapa sosok pahlawan dan guru bangsa. Ruang koleksi di lantai satu memajang lukisan yang kebanyakan sudah berumur, salah satu koleksi karya R.J Katamsi dibuat pada tahun 1922. Beberapa karya patung di tahun 60-an juga ada di sini, diantaranya karya Trubus. Di ruang ini juga terdapat sosok Gus Dus sedang duduk santai.
Menuju lantai dua, terdapat kolam kecil dan lantai yang terbuat dari kayu bekas penopang rel kereta api yang terbentang hingga ke lantai dua. Sebuah pintu besar berisikan 84 motif batik cap menjadi gerbang menuju kisah-kisah selanjutnya. Pada dinding sisi kanan di sebuah lorong yang mengarah ke lantai dua terdapat kumpulan karya seniman Sanggar Bambu. Sebuah sanggar seni tua di Indonesia yang diprakarsai oleh Soenarto PR pada 1 April 1959. Sedangkan di sisi kanan, terdapat bebera karya seniman Bandung.
Menapaki lorong selanjutnya, terdapat barisan karya yang sebagian besar berupa sketching. Diantaranya adalah karya-karya pada era penjajahan dan kekejaman tentara NICA. Tentu karya tersebut menjadi arsip penting dalam sejarah bangsa. Bahkan ada beberapa karya yang dituangkan di atas kerta bekas pakai dan dibuat saat di dalam penjara.
Sebuah jembatan terbentang untuk menghubungkan ke ruang lainnya di lantai dua. Jajaran bambu utuh pada sisi atas dan samping semakin memperkuat kesan bangunan topis yang bersahaja. Koleksi wayang klithik dan wayang golek ditempatkan di sisi kanan dan kiri. Wayang rupanya memang menginspirasi karya seniman yang pernah menyabet Philip Morris Award tahun 1997 ini. Nasirun juga mendedikasikan sebuah ruang bagi Soekarno-Hatta di lantai satu, tepat pada akses jalan keluar. Dokumentasi Soekarno bertemu dengan tokoh dunia dan momen bersejarah terpatri di sini.
Napas Segar Kesenian
Ruang koleksi adalah ruang apresiasi dan edukasi. Saat ini 1.460 karya seni sudah terpasang di ruang koleksi Nasirun. Semua dinding di ruang koleksi memang sudah sesak. Sebenarnya, masih banyak karya yang belum terpasang. Nasirun dan Eko Prawoto selalu berdiskusi untuk menambah space guna memajang karya seni.
Ruang koleksi ini berusaha menyediakan kenyamanan bagi para tamu yang kebanyakan malahan datang dari manca negara. Tata ruang dan interior serta perlengkapan memberikan napas segar untuk melihat, mencermati atau bahkan memancing imagi untuk memutar mesin waktu saat suatu karya dibuat. Beberapa furnitur seperti meja persegi dan beberapa kursi yang ditempatkan tepat di tengah ruang lantai satu, atau pun barisan kursi di ruang lantai dua, disediakan untuk para pengunjung.
Gemerlap tata cahaya alami pun masuk di berbagai sudut ruang. Pada lorong menuju lantai dua, terdapat tiga corong cahaya yang menjadi wahana ekspresi Nasirun tentang pemaknaan sunrise hingga sunset. Bilahan bambu pada jembatan penghubung ke ruang lantai dua juga membebaskan cahaya untuk masuk ke celah-celah bambu. Pada bagian atas bangunan, terdapat juga celah-celah dinding sebagai akses cahaya. Hal yang sama diterapkan untuk sirkulasi udara. Kehadiran aneka tanaman hijau memang memberikan kontribusi besar pada keteduhan ruang koleksi. Udara segar pun bisa dihirup di semua ruang.
Seni, Dulu hingga Sekarang
Kehadiran museum di kompleks perumahan ini diharapkan Nasirun mampu menjadi roh penyemangat kehidupan seni dan budaya serta pembangkit nasionalisme. Banyak hal yang bisa dipelajari dan dimaknai dari suatu karya. Proses yang dilakoni Nasiru ternyata juga mendapat respon dari masyarakat. Bantuan tenaga sukarelawan dari berbagai kota dan lembaga pendidikan sangat membantu dalam pendataan dan merawat koleksi. Ribuan koleksi yang sudah terkumpul serta koleksi yang akan datang tidak hanya disimpang di peti harta karun Nasirun. Koleksi-koleksi itulah yang akan senantiasa dipajang di ruang koleksi sehingga bisa berguna bagi masyarakat. (yokolilo untuk LARAS)
————————————–
Setelah selesai liputan dan majalah telah terbit, saya dan mas Oki, fotografer, main ke rumah Pak Nasirun. Sesampainya di sana, ternyata beliau sedang menyabuti rumput di jalan komplek perumahan, di depan galeri seni miliknya. Semula, kami hanya ingin nge-drop majalah dan langsung hunting tempat lainnya. Ternyata, kami malah diajak ke studio dan ngobrol sembari ngopi. Obrolan seru, dan seperti obrolan sebelumnya, tema kehidupan seni sebagai budaya versus seni dalam bingkai kapitalis selalu seru diperbincangkan.
Oh ya, pagi hari sebelum ke rumah Pak Nasirun, saya menyiapkan ukulele dan marker untuk minta tanda tangan. Tak dinyana, ukulele malahan menjadi kanvas lukisan Pak Nasirun ditambah lagi kado satu lukisan yang pernah dipamerkan di Hongkong. Nuwun, makasih banyak Pak Nasirun.