picupacu

Oktober 30, 2014

picu, memicu: menembakkan, mencetuskan, membangkitkan

pacu, memacu: melancarkan, menggertakkan, memecut

(teasurus bahasa indonesia, eko endarmoko)

dua kata itulah yang mungkin cocok untuk memecut pergi kelesuan. saya merasa gila untuk terkungkum dalam kelesuan. statis. ogah-ogahan berpikir. males bergerak. kebuntuan yang menjadi sekat-sekat penghadang untuk menjawab kebutuhan dan tuntutan.

picu dan pacu. pagi tadi saya mendapatkan pemicu setelah melihat bedah buku ‘demokreatif’ yang ditulis mentor sekaligus rekan kerja di kantor lama, mccann ericson. yoga dan hari memang sejoli yang punya passion di dunia periklanan. cinta dan kerja mereka memang patut diapresiasi.

saya masih mencari pemicu lainnya yang mampu memacu semangat untuk memelekkan segenap jiwa raga. kemarin saya bertemu dengan mas tampil, salah satu pengelola museum sandi, yogyakarta. itu juga seorang pemicu. kemarin juga saya juga dikejutkan oleh seorang teman, iyuz, yang memberi kabar bahwa majalah martha stewart living akan segera berakhir produksi. tenaga picu pun tiba-tiba berkurang…

katanya, pemicu yang paling memang paling dashyat adalah diri sendiri. ya, mungkin sejatinya memanglah demikian. tetapi katalis-katalis dari luar diri menjadi penting bahkan mungkin sangat penting karena kebiasaan membandingkan. saat membandingkan diri dengan seseorang, saya baru tahu dan merasakan…betapa beruntungnya saya. betapa harus bersyukurnya saya. betapa seharusnya malunya saya pada diri sendiri.

itulah. picu dan pacu. sama persis ketika orang yang sakit jantung, yang harus dipacu dengan kejutan-kejutan listrik supaya kembali berdetak. kiranya…saya sedang butuh alat pacu itu untuk membangkitkan diri.

-L-

Iklan