Keelokan Art Nouveau nDalem Natan

Januari 25, 2016

Setiap jengkal tanah memiliki sejarah panjang yang terbentang dari jaman Mataram Hindu hingga Mataram Islam. Rangkaian cerita yang compaq menggugah keingintahuan.

Pendapa sebuah rumah di bilangan Mondorakan, Kotagede, selalu mencuri perhatian. Jajaran pilar, deretan lampu gantung dan rangkaian kaca patri adalah pemandangan yang tampak dari jalan raya. Cungkup bertuliskan “PD”, angka 18 dan 57 yang dipisahkan sebuah ornamen menjadi penggugah rasa penasaran.

Sejarah Besar Kotagede

Kotagede adalah kota lawas yang menyimpan bertumpuk harta karun. Cikal bakal kota Yogyakarta dimulai di kawasan yang terkenal dengan keberadaan makam para raja pendiri kerajaan Mataram. Salah satu peninggalan yang berharga dari sejarah panjang Kotagede adalah nDalem Natan. Rumah bergaya arsitektur Jawa ini termasuk sebuah mahakarya yang terselamatkan.

Didirikan tahun 1857 dengan nama nDalem Prayadranan, bangunan seluas 1400 meter persegi ini sempat mengalami keterpurukan pasca gempa yang melanda Yogyakarta.Sempat beberapa tahun terlantar, rumah ini akhirnya dijual oleh generasi keempat dari sang pemilik. Banyak pihak yang menyayangkan hal ini. Untungnya, warisan budaya ini terselamatkan, bahkan dibangkitkan kembali ke bentuk semula oleh Nasir Tamara.

Kecintaannya pada sejarah menuntunnya untuk menyatukan reruntuhan hingga keping-keping ornamen nDalem Prayadranan. Dibantu para sahabat dan koleganya, diantaranya Laretna T Adhisakti, Aki Adhisakti, Prof. Nakamura serta Jogja Heritage Society, kini masyarakat bisa tersenyum bahagia melihat rumah ini hidup kembali. nDalem Natan dipilih menjadi nama baru yang bermakna rumah yang berada di kawasan para raja dan kerajaan.

Rumah Jawa yang Mewah

Pemilik terdahulu nDalem Natan adalah seorang saudagar kaya raya yang memiliki bank dan bisnis transportasi, mulai dari kereta hingga mobil.Kekayaan dan kedekatan dengan kerajaan memungkinkan sang pemilik mendirikan rumah mewah bergaya Jawa ini. Pembagian ruang terdiri dari pendapa, pringgitan, sentong tengah, sentong kiri dan kanan. Terdapat juga gandokkiri dan gandokkanan yang terdapat di bagian sayap rumah.Bagian belakang rumah juga masih terdapat beberapa ruang untuk dapur dan juga tempat untuk membatik.

Kemewahan bangunan ini ditopang gaya art nouveau.Kaca patri dengan gaya floral, garis-garis lengkung yang terdapat pada pintu, motif nanasan pada pilar yang terbuat dari kayu jati utuh. Berbagai piranti juga mengusung gaya yang sama, seperti meja-kursi dan lemari, teralis jendela dan bovenyang terbuat dari besi solid, plafon yang terbuat dari baja, porselin bermotif floral.

Semua material tersebut ternyata memiliki kemiripan dengan karya era art nouveau yang terdapat di Brusell dan Perancis. Menurut Nasir Tamara, nDalem Natan termasuk satu-satunya bangunan di Yogyakarta yang didominasi keelokan art nouveau.

Rumah adalah Jiwa Pemilik

Karakter sebuah rumah erat hubunganya dengan kehidupan sang pemilik. Sejarah nDalem Natan dimulai dari sang pemilik awal yang adalah seorang saudagar kaya raya di bidang transportasi dan juga memiliki bank. Rupanya tidak hanya mengandalkan kekayaan, di jaman kerajaan Mataram, sang pemilik mungkin juga memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan sehingga diberi kuasa untuk membangunan rumah besar.

Dunia usaha sang pemilik terpatri jelas di berbagai sudut. Pada teralis terdapat ikon-ikon alat transportasi seperti kompas, jangkar, roda dan perahuyang bersatu memaparkan filofosi kehidupan.Kehidupan yang digambarkan pada sebuah perahu di tengah samudera tak bertepi, roda kehidupan yang selalu mengarah pada Sang Pencipta adalah beberapa makna yang bisa dilihat dari teralis jendela. Hebatnya lagi, material yang digunakan adalah besi solid.

Penjiwaan sebagai bagian dari masyarakat Mataram juga tampak dari kaca patri yang menghadirkan Gunung Merapi dan Laut Selatan. Guratan pada daun pintu pun tak luput dari visualisasi sarat makna. Permainan garis dengan ujung anak panah merujuk pada nama Allah, sisi utara dan selatan (representasi dari Gunung Merapi dan Laut Selatan) dan empat unsur kehidupan (api, air, tanah, udara). Sebuah percampuran budaya Islam Sufi dan Mataram Hindu.

Merawat, Menyelamatkan dan Menjaga

Usaha menyelamatkan keluhuran karya budaya ini terus dilakukan. Para pekerja proyek didatangkan secara khusus dari Jepara, Demak dan Kudus. Pendapa menjadi tahap awal restorasi. Penambalan ­retakan hebat tembok bligon akibat gempa dilakukan secara intensif. Beberapa tiang penyangga juga mengalami kerusakan.

Sebagai pribadi yang akrab dengan sejarah dan antropologi, Nasir Tamara dengan telaten terus berusaha mengumpulkan semua material peninggalan bangunan lama, sekecil apapun. Akhir-akhir ini, bahkan ditemukan artefak di halaman depan berupa susunan batu bata, seperti tembok. Beberapa kolega memperkirakan umur ‘tembok’ tersebut lebih tua daripada bangunan rumah.

Melacak sejarah memang tidak ada habisnya. Keinginan untuk melengkapi rumah dengan pakem keraton terus dilakukan. Kolam, sebagai unsur air bergerak dalam feng shui, akan dihadirkan di depan rumah sekaligus mengekspos temuan artefak tembok batu bata. Bibit tanaman buah-buahan dan juga tanaman berbunga mulai disiapkan untuk menemani tanaman kepel. Tanaman yang banyak ditemui di Taman Sari Yogyakarta.

Menata Kehidupan Baru

Membuka nDalem Natan sebagai ruang publik adalah upaya mengembalikan salah satu fungsi rumah yang konon pernah ditinggali almarhum Edy Sud ini. Kini, selain untuk rumah tinggal, rumah bersejarah ini difungsikan juga sebagai art space dan residensi seniman.

Dua kamar di masing-masing gandok dibuka untuk para seniman, tamu atau pun penggiat seni. Konsistensi nuansa rumah lawassangat terjaga. Aroma khas tembok bligonmenyebar di seluruh ruang seolah menarik romansa masa lampau. Furnitur bergaya art nouveauatau akrab dengan sebutan gaya Semarangantertata rapi.

Sudut yang tak kalah menarik adalah ruang antara rumah dalam dan gandok.Satu set meja kursi bertema art nouveau cocok untuk menikmati waktu ngobrol sambil menikmati teh dan camilan. Rangkain teralis estetis dan penuh makna di jendela dan koleksi benda seni bisa menjadi bahan cerita yang tidak ada habisnya.

Barisan pintu kayu jati berwarna coklat bergaya lengkung art nouveauterdapat samping kiri dan kanan pendapa. Di sisi kiri, kini digunakan sebagai rumah tinggal pemilik. Di sisi lainnya, akan digunakan sebagai sentra souvenir.

Sebuah coffee shopjuga dihadirkan di bagian paling depan. Beberapa kegiatan seni dan budaya sudah digelar di bekas garasi Rolls-Royce pertama yang hadir di Indonesia ini. Selain itu, lantai dua tempat ngopi ini juga digunakan sebagai galeri seni. nDalem Natan adalah warisan pusaka sejarah yang terus berusaha merangkul kehidupan masa kini. (yokolilo)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: